Mas Kama dan Perlawanan yang Tak Pernah Tertidur

SUMENEP, RANGKUMAN – Bagi sebagian orang, LBH Achmad Madani Putra dan Rekan-rekan hanyalah sebuah kantor hukum di ujung timur Madura.
Tapi bagi buruh pabrik yang upahnya dipotong sepihak, bagi nelayan yang perahunya ditahan aparat, atau bagi petani yang sawahnya hendak digusur, kantor ini adalah garis pertahanan terakhir.
Di meja kayu yang penuh tumpukan berkas, Kamarullah, sang Ketua Umum, pernah menyusun strategi untuk menghentikan buldoser yang hendak meratakan rumah seorang ibu di pinggiran kota.
Ia tidak hanya membawa kasus itu ke pengadilan, tetapi juga mengorganisir warga, mengajarkan mereka cara menulis surat keberatan, dan memimpin aksi damai di balai kota.
“Kalau hanya menang di pengadilan tanpa membuat rakyat berani bersuara, itu bukan kemenangan penuh,” kata pria yang akrab disapa Mas Kama.
Sejak berdiri, LBH ini telah menangani ratusan kasus, dari perkara perdata hingga kriminal yang melibatkan rakyat kecil.
Setiap kasus selalu menjadi ruang belajar bersama tentang bagaimana pasal-pasal bisa menjadi senjata, dan bagaimana solidaritas bisa menguatkan.
Dampaknya mulai terasa. Buruh kini berani menuntut kontrak kerja yang adil. Petani tak lagi pasrah saat tanahnya diincar proyek besar. Nelayan tahu prosedur hukum jika alat tangkap mereka disita.
LBH Achmad Madani Putra telah menjadi lebih dari sekadar kantor advokat. Ia adalah ruang perlawanan, sekolah kesadaran, dan rumah bagi mereka yang selama ini dianggap tak punya suara.
“Selama masih ada ketidakadilan, kami akan terus menyala, meski di tengah badai,” tutup Mas Kama.***

Tinggalkan Komentar