Opini
Beranda » Blog » Asal Jadi: Etika Jurnalisme yang Dikorting

Asal Jadi: Etika Jurnalisme yang Dikorting

ILUSTRASI. Etika Jurnalisme yang Dikorting, (Dok. Ury/Rangkuman.net)

OLEH: Ury (Pimpinan Redaksi Rangkuman.net) 

OPINI, RANGKUMAN – Dalam iklim media modern yang makin didikte oleh algoritma dan kecepatan, kualitas jurnalisme hari ini tengah menghadapi krisis identitas yang serius.

Bukannya menjadi profesi mulia yang berpijak pada prinsip verifikasi, keberimbangan, dan keberpihakan pada publik, kerja jurnalistik perlahan melorot menjadi sekadar kerja konten.

Banyak media, dan para pekerjanya, seakan cukup puas dengan prinsip kerja “yang penting kenyang.”

Kenyang di sini bukan soal perut, tapi soal page views, engagement, dan pemenuhan target harian. Alih-alih mendalami isu, menelusuri data, dan mewawancarai sumber yang kredibel, sebagian besar produk jurnalistik hari ini hanyalah daur ulang.

Siaran pers dipoles sedikit dan langsung tayang. Cuitan X yang sedang viral dijadikan berita, tanpa upaya verifikasi atau konteks. Wartawan tidak lagi dibekali waktu untuk menyelidiki; mereka dipaksa menjadi mesin penghasil artikel yang cepat, banyak, dan murah.

Padahal, jurnalisme sejatinya bukan sekadar menyampaikan apa yang terjadi, melainkan menjawab kenapa itu penting, apa dampaknya, dan siapa yang harus bertanggung jawab.

Namun dalam lanskap media yang dijejali dengan “clickbait” dan tuntutan trafik, fungsi itu perlahan lenyap. Yang tersisa adalah berita-berita dangkal, berjudul bombastis, dan kadang misleading diciptakan bukan untuk mencerahkan publik, tapi memuaskan algoritma dan pemilik modal.

Lebih buruk lagi, wartawan yang idealnya menjadi pembela kepentingan publik malah terjebak dalam siklus kerja eksploitatif.

Ditekan oleh tenggat yang mepet dan target absurd, mereka tak diberi ruang untuk berpikir kritis atau mendalami isu. Akhirnya, banyak yang memilih jalan pintas: menyalin, atau bahkan menulis tanpa riset, yang penting artikel naik dan gaji jalan.

Dampaknya bukan hanya pada kualitas berita, tapi juga pada publik. Masyarakat disuguhi informasi setengah matang, miskin konteks, dan mudah menyesatkan.

Pembaca tidak diberdayakan untuk berpikir kritis, hanya dijejali berita sensasional dan konflik permukaan. Dalam jangka panjang, ini mengikis kepercayaan pada media, sekaligus membentuk warga yang apatis dan kebal terhadap kebenaran.

Jurnalisme yang lapar hanya pada kenyang, pada akhirnya, membunuh dirinya sendiri. Ketika kepercayaan hilang, ketika publik merasa dikhianati oleh media yang tak lagi peduli pada akurasi dan kepentingan mereka, maka jurnalisme tak lebih dari industri konten biasa.

Sudah waktunya industri media merefleksikan ulang arah geraknya. Jurnalisme sejati membutuhkan keberanian, waktu, dan ketekunan.

Ia tidak bisa digarap dengan prinsip “yang penting tayang, dan keyang” Yang kita butuhkan hari ini bukan berita cepat, tapi berita yang benar, berimbang, dan berguna. Karena kenyang saja tidak cukup publik butuh nutrisi informasi yang sehat.***

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.