Hadapi Tarif Impor AS, GAPMMI Dorong Enam Langkah Strategis

NASIONAL, RANGKUMAN – Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) mendesak pemerintah Indonesia untuk mengambil enam langkah strategis dalam merespons kebijakan tarif impor yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.
Langkah ini dianggap penting untuk menjaga daya saing industri makanan dan minuman nasional di pasar global.
Ketua Umum Gapmmi, Adhi Lukman, menegaskan bahwa AS merupakan salah satu tujuan ekspor utama bagi produk makanan dan minuman Indonesia.
Oleh karena itu, stabilitas hubungan perdagangan antara kedua negara harus dijaga dengan baik.
“Kami berharap pemerintah segera melakukan negosiasi diplomatik dengan AS guna mencari solusi terbaik. Indonesia dan AS memiliki hubungan perdagangan yang saling menguntungkan, sehingga perlu dicari jalan tengah agar dampak tarif ini bisa diminimalkan,” ujar Adhi dalam siaran pers, dikutip Rangkuman dari Kompas Minggu (6/4/2025)
Langkah kedua yang disarankan adalah melakukan analisis menyeluruh terhadap dampak kebijakan tarif impor AS.
Menurut Adhi, pemetaan ini penting agar pemerintah dapat memberikan kebijakan dukungan yang tepat kepada industri makanan dan minuman.
“Kenaikan tarif tentu akan berdampak pada biaya produksi. Oleh karena itu, kebijakan yang berpihak kepada industri sangat dibutuhkan agar daya saing tetap terjaga,” katanya.
Selain itu, Gapmmi juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas ekonomi nasional, terutama nilai tukar rupiah, yang berpengaruh besar terhadap biaya produksi dan harga jual produk ekspor.
Langkah keempat adalah memperkuat industri nasional dengan mendorong hilirisasi sektor agrobisnis serta meningkatkan penggunaan bahan baku dalam negeri sebagai substitusi impor.
“Pemerintah perlu memastikan kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tetap berjalan, karena terbukti mampu meningkatkan permintaan produk manufaktur lokal dan memberikan kepastian bagi investor,” jelas Adhi.
Menurutnya, jika kebijakan TKDN dilonggarkan, akan ada risiko hilangnya lapangan kerja serta berkurangnya jaminan investasi di Indonesia.
Langkah terakhir yang diusulkan Gapmmi adalah diversifikasi pasar ekspor agar industri makanan dan minuman Indonesia tidak terlalu bergantung pada pasar AS.
“Kami harus mulai memperluas pasar ke negara-negara lain, seperti Timur Tengah, Afrika, dan Eropa Timur. Ini penting untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan dari kebijakan perdagangan negara tertentu,” tutupnya.***

Tinggalkan Komentar