MCF 2025 Dituding Bermasalah, Sponsor hingga Sewa Tenda Jadi Sorotan

SUMENEP, RANGKUMAN – Madura Culture Festival (MCF) 2025 yang digadang sebagai etalase budaya terbesar di Kabupaten Sumenep justru berubah menjadi sorotan publik. Alih-alih tampil megah, festival ini diterpa tudingan miring, mulai dari dugaan bancakan dana hingga praktik jual-beli stand.
Nama Sugeng, mantan Tenaga Ahli (TA) Bupati yang kini menjabat sebagai salah satu komisioner Baznas Sumenep, disebut-sebut berada di balik carut-marut pengelolaan acara tersebut.
Dugaan Aliran Dana
Berdasarkan rangkuman MaduraPost, sedikitnya ada tiga sumber dana yang dipertanyakan:
APBD Sumenep 2025 – Pemerintah mengalokasikan Rp310 juta untuk enam rangkaian kegiatan, di mana Rp200 juta diantaranya untuk MCF.
Jual-beli stand Disebut dikelola Sugeng, dengan tarif Rp800 ribu – Rp3 juta per stand. Bila 146 stand terisi, potensi dana bisa mencapai Rp219 juta.
Iuran Paguyuban Rokok Masing-masing pabrik rokok diminta Rp3 juta. Jika 70 pabrik ikut, nilainya Rp210 juta. Namun kabarnya hanya Rp40 juta yang benar-benar masuk, dan dana itu disebut mengalir ke rekening Sugeng.
Jika dihitung kasar, dugaan bancakan bisa menembus Rp739 juta, bahkan disebut mendekati Rp1 miliar bila memasukkan sponsor dari SKK Migas, RSUD dr. H. Moh. Anwar, hingga BPRS Bhakti Sumekar.
Sugeng Membantah
Saat dikonfirmasi, Sugeng membantah keras tudingan tersebut. Ia menegaskan, dirinya hanya bertanggung jawab pada Madura Kultur dan pameran pembangunan.
“Tidak benar kalau saya disebut mengendalikan semua. Event itu ada panitia masing-masing. Saya hanya pegang Madura Kultur dan pameran. Festival tembakau, batik, hingga sweet model ada panitia sendiri,” kata Sugeng melalui sambungan telepon, Jumat (12/9).
Terkait dugaan dana iuran rokok masuk ke rekening pribadinya, Sugeng menyebut itu fitnah. Menurutnya, justru paguyuban sendiri yang menanggung biaya orkes, panggung, dan tenda.
“Kalau disebut sampai Rp1 miliar, itu bohong. Semua biaya ada pertanggungjawaban,” tegasnya.
Klarifikasi Stand dan Sponsor
Sugeng juga menjelaskan soal tarif stand yang dianggap terlalu tinggi. Ia menyebut kategori berbeda diberlakukan, termasuk Rp350 ribu khusus untuk UMKM, dengan alasan biaya keamanan dan kebersihan yang tidak kecil.
“Biaya keamanan per malam saja Rp2,5 juta. Sponsor pun kecil, RSUD hanya Rp500 ribu, SKK Rp2,5 juta, dan Kangean Energi Rp5 juta,” jelasnya.
Status di Baznas
Isu lain yang menyeret Sugeng adalah posisinya di Baznas. Ketua Baznas Sumenep, Ahmad Rahman, membenarkan Sugeng masih aktif, namun enggan menanggapi lebih jauh soal MCF. Sugeng sendiri menilai status ganda itu bukan masalah.
“Saya sudah lama jadi EO sejak 2015. Jadi komisioner Baznas sekaligus EO tidak ada larangan. Kalau ada yang memojokkan, biarkan saja,” ucapnya.
SPJ dan Pertanyaan Publik
Sugeng juga memastikan laporan pertanggungjawaban (SPJ) sudah diselesaikan. “Kalau SPJ tidak masuk, dana tidak akan cair. Faktanya sudah cair,” katanya.
Namun, silang klaim antara dugaan bancakan dana dan bantahan Sugeng membuat publik masih bertanya-tanya: apakah MCF 2025 benar-benar menjadi panggung budaya, atau justru lahan bancakan segelintir pihak.***

Tinggalkan Komentar