Humaniora Politik
Beranda » Blog »  ‘Equilibrium Sosial-Inklusif’, Gagasan Baru Maksudi untuk Memperkuat PMII Jatim

 ‘Equilibrium Sosial-Inklusif’, Gagasan Baru Maksudi untuk Memperkuat PMII Jatim

POTRET. Maksudi, calon Ketua Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur, (Dok. Istimewa/Rangkuman.net) 

SUMENEP, RANGKUMAN – Maksudi, calon Ketua Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur, meluncurkan konsep “Equilibrium Sosial-Inklusif” sebagai jawaban atas polarisasi sosial yang kian menganga, rendahnya literasi digital, serta ketidakseimbangan antara nilai keislaman, keindonesiaan, dan keilmuan di tubuh PMII.

Menurut Maksudi, PMII Jatim harus berperan sebagai “penyeimbang” dalam dinamika sosial-keagamaan dan tantangan zaman modern. “PMII tidak hanya perlu kokoh secara ideologis, tetapi juga tangguh menghadapi tantangan digital, lingkungan, dan ekonomi kader,” tegasnya.

Konsep “Equilibrium Sosial-Inklusif” diterjemahkan ke dalam lima misi utama:

Kaderisasi Holistik: Mengembangkan potensi kader sesuai tuntutan era digital dan kebutuhan masa depan.

Perluasan Partisipasi: Mendorong kader menempati posisi strategis di berbagai sektor pemerintahan, bisnis, hingga riset.

Moderasi Beragama: Mengoptimalisasi peran ulama dan umara untuk membumikan nilai-nilai moderat dalam praktik ibadah dan kehidupan sehari-hari.

Advokasi Publik Kreatif: Memanfaatkan data dan media digital untuk kampanye publik yang efektif dan berbasis fakta.

Kemandirian Organisasi: Mendirikan Badan Usaha Milik Koordinator Cabang (BUMKC) dan Inkubator Wirausaha Sosial guna menciptakan sumber pendanaan mandiri dan berdampak sosial.

Maksudi menegaskan, PMII Jawa Timur harus bertransformasi dari organisasi yang reaktif menjadi wadah intelektualitas, aktivisme, dan inovasi sosial. Salah satu wujud konkret, kata dia, adalah pendirian Sekolah Vokasi PMII Jatim, yang memadukan keislaman, literasi digital, keterampilan teknis, dan kepemimpinan komunitas.

“Untuk menjadi center of gravity, kita tak boleh terpaku pada aktivisme konvensional. Kita harus menjembatani tradisi dengan teknologi, nilai spiritual dengan data saintifik,” ujarnya.

Dalam menjaga kohesi sosial, PMII Jatim diharapkan memfasilitasi dialog antariman melalui Forum Lintas Iman, sekaligus mendorong toleransi yang berakar di masyarakat. Di samping itu, gerakan lingkungan pun mendapat perhatian serius: PMII akan melakukan advokasi berbasis data untuk merespons krisis ekologi secara strategis.

Pada aspek ekonomi, Maksudi merancang BUMKC yang berorientasi pada keuntungan, dampak sosial, dan keberlanjutan. Ditambah lagi, Inkubator Wirausaha Sosial dan skema crowdfunding filantropi kader–alumni diharapkan menjadi tulang punggung kemandirian finansial organisasi.

Sebagai kerangka paradigmatik, “Equilibrium Sosial-Inklusif” bukan stagnasi, melainkan keseimbangan dinamis yang terus beradaptasi dengan tantangan baru. Dengan demikian, PMII Jawa Timur diharapkan menjadi “laboratorium peradaban” aktor perubahan sosial yang moderat, adaptif, dan kolaboratif.***

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.