Kasus Kematian Sapi Akibat Wabah BEF di Sumenep Turun Drastis Berkat Vaksinasi Massal

SUMENEP, RANGKUMAN – Kasus kematian sapi akibat wabah Bovine Ephemeral Fever (BEF) di Sumenep, Madura, Jawa Timur, mengalami penurunan signifikan.
“Alhamdulillah, sekarang sudah sangat menurun,” ujar Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Sumenep, Zulfa, Kamis (13/3).
Menurutnya, penurunan ini tidak lepas dari program vaksinasi massal yang telah dilakukan pemerintah daerah. Sebanyak 7.000 dosis vaksin telah disuntikkan untuk meningkatkan kekebalan sapi terhadap virus, bakteri, dan protozoa penyebab penyakit.
Selain melindungi sapi dari infeksi, vaksinasi juga berperan dalam mengendalikan penyebaran wabah, terutama penyakit yang mudah menular.
“Kami mulai vaksinasi sejak minggu ketiga Januari 2025. Itu yang membantu mengendalikan penyakit pada sapi,” jelas Zulfa.
Untuk menangani wabah ini, pihaknya mengerahkan 30 petugas kesehatan hewan ke setiap kecamatan. Vaksin yang digunakan merupakan bantuan dari pemerintah pusat dan diberikan secara gratis kepada peternak, meski ada biaya untuk jasa layanan kesehatan petugas.
“Vaksin kami distribusikan merata, baik ke wilayah daratan maupun kepulauan. Vaksinnya gratis, tetapi jasanya berbayar agar petugas tetap mendapatkan kompensasi,” tambahnya.
Meski saat ini kasus sudah terkendali, Zulfa mengingatkan bahwa potensi wabah bisa muncul kembali, terutama jika kesehatan dan perawatan sapi tidak diperhatikan dengan baik.
“Risiko tetap ada karena ini virus. Lalu lintas ternak sangat berpengaruh. Kita tidak bisa mengontrol apakah hewan yang masuk sudah divaksin atau membawa penyakit,” katanya.
Oleh karena itu, ia mengimbau para peternak untuk lebih memperhatikan kebersihan, kesehatan, dan asupan gizi hewan ternaknya guna mencegah penyebaran penyakit.
“Kami sudah sering memberikan edukasi kepada peternak saat di lapangan,” pungkasnya.
Diketahui, pada Desember 2024 hingga Januari 2025, sebanyak 150 ekor sapi di Sumenep dilaporkan mati mendadak akibat virus BEF. Penyakit ini muncul terutama saat musim pancaroba dan ditularkan oleh serangga pengisap darah, seperti nyamuk Cullicoides spp, Aedes vigitax, dan Culex quinquefasciatus.***

Tinggalkan Komentar