Trump Desak Iran dan Israel Segera Berdamai, Sebelum Terlambat

INTERNASIONAL, RANGKUMAN – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyerukan agar Iran segera kembali ke meja perundingan dengan Israel di tengah eskalasi konflik yang kian memanas.
Trump menyatakan bahwa Iran tidak memenangkan perang ini dan mendesak kedua belah pihak untuk bernegosiasi sebelum keadaan menjadi lebih buruk.
“Mereka harus membuat kesepakatan. Ini menyakitkan bagi kedua belah pihak,” kata Trump sebelum menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Kanada, dikutip dari CNN Indonesia, Selasa (17/06)
“Menurut saya, Iran tidak memenangkan perang ini. Mereka harus berbicara, dan mereka harus melakukannya segera sebelum terlambat.” tambah Trump.
Konflik antara Iran dan Israel telah menewaskan sedikitnya 224 orang di pihak Iran dan melukai lebih dari 1.200 lainnya, menurut Kementerian Kesehatan Iran. Sementara di pihak Israel, tercatat 24 korban tewas dan 592 orang terluka akibat serangan balasan dari Iran.
Di tengah meningkatnya ketegangan, negosiasi nuklir antara Teheran dan Washington yang semula dijadwalkan berlangsung pada Minggu, secara resmi dibatalkan.
Komunitas internasional turut menyuarakan keprihatinan. Pemerintah China menyerukan kepada kedua negara untuk segera meredakan ketegangan dan menghindari kekacauan regional. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, bahkan menyatakan kesiapannya untuk menjadi fasilitator dialog antara kedua negara.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menyatakan bahwa para pemimpin negara-negara Kelompok Tujuh (G7) sepakat pentingnya upaya de-eskalasi demi mencegah perang berskala lebih besar.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa serangan militer Israel bertujuan untuk menggagalkan apa yang mereka anggap sebagai ancaman eksistensial dari program nuklir dan rudal Iran.
Situasi semakin rumit setelah kampanye pengeboman besar-besaran terjadi beriringan dengan pembatalan perundingan nuklir. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyebut fasilitas pengayaan uranium Iran di Natanz mengalami kerusakan serius di bagian atas tanah, meski tingkat radiasi di sekitarnya dilaporkan masih normal.
Dalam rapat dewan darurat, Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, memperingatkan bahwa keselamatan nuklir kini berada dalam risiko akibat konflik bersenjata yang terus berlangsung.***

Tinggalkan Komentar