Berita
Beranda » Blog » Ancaman dan Pemotongan Bantuan di Desa Galis, Istri Kades Diduga Bersembunyi Usai Suaranya Viral

Ancaman dan Pemotongan Bantuan di Desa Galis, Istri Kades Diduga Bersembunyi Usai Suaranya Viral

POTRET. Ilustrasi Ancaman dan Pemotongan Bantuan di Desa Galis. (Rangkuman.net) 

SUMENEP, RANGKUMAN – Dugaan penyalahgunaan kewenangan dalam penyaluran bantuan sosial kembali mencuat di Kabupaten Sumenep. Seorang perempuan berinisial F, yang disebut sebagai istri Kepala Desa Galis, Kecamatan Giligenting, diduga memotong dana bantuan sosial warga dengan dalih pembangunan fasilitas desa, sekaligus mengancam penerima bantuan agar tidak mencairkan dana di agen lain selain miliknya.

Rekaman suara yang berisi ancaman tersebut kini viral di sejumlah grup WhatsApp warga. Dalam voice note itu, F secara terang-terangan mengaku telah melakukan pemotongan bantuan untuk kepentingan pembangunan kamar mandi dan pengaspalan jalan desa.

“Saya memang tidak berhak memasukkan nama baru di atas, tapi kalau menghapus kaule berhak. Awas bagi yang nakal-nakal, kemarin mendengar karena saya minta dan motong dengan beberapa nominal. Karena hal itu saya ingin membuat kamar mandi dan mengaspal jalan,” ucap F dalam potongan voice note yang beredar luas.

Lebih jauh, F juga terdengar mengancam warga penerima bantuan agar tidak mencairkan dana di agen lain. Ia menegaskan siap melaporkan siapa pun yang melanggar perintahnya kepada sang suami, Kepala Desa Galis. Akhmad Syafri Wiarda.

“Assalamualaikum untuk semua pemegang kartu, baik kartu lama atau kartu baru, dari semua jenis bantuan. Awas jangan sampai saya menemukan ambil di agen lain, sumpah saya pastikan saya laporkan ke suami saya, awas ya,” lanjut F dalam rekaman yang sama.

Dalih Pembangunan dan Respon Warga

Dalam pengakuannya, F berdalih bahwa pemotongan dana dilakukan demi kepentingan pembangunan desa, seperti pembuatan kamar mandi dan perbaikan jalan. Ia mengklaim bahwa tidak semua proyek dapat dibiayai dari dana desa, sehingga sebagian dana bantuan masyarakat “dialihkan” untuk kebutuhan umum.

Namun, alasan tersebut menuai kecaman. Sejumlah warga menilai tindakan itu tidak bisa dibenarkan dan termasuk bentuk penyalahgunaan kewenangan. Dana bantuan sosial seharusnya diterima penuh oleh penerima manfaat, bukan digunakan untuk keperluan pembangunan yang menjadi tanggung jawab anggaran pemerintah desa.

“Kami takut, tapi juga bingung karena merasa ditekan. Kalau tidak ambil di agen keluarganya, katanya nanti nama bisa dihapus,” ungkap salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

Upaya Konfirmasi Mentok, F Diduga Menghindar

Tim Rangkuman  telah berupaya melakukan konfirmasi langsung kepada F untuk meminta penjelasan terkait isi voice note yang beredar. Namun, upaya tersebut berakhir buntu.

Saat dihubungi melalui sambungan telepon pada Sabtu (8/11) siang, F sempat menjawab panggilan wartawan dengan singkat:

“Halo, iya benar,” ujar suara perempuan yang diyakini sebagai F.

Tak lama kemudian, suara di ujung telepon berubah menjadi suara anak kecil yang mengaku memegang ponsel milik F

“Nggak ada mama, ini HP-nya dipegang aku. Mama nggak ada, nanti aku bilang ke mama,” kata anak itu.

Pergantian suara secara tiba-tiba tersebut menimbulkan dugaan bahwa F sengaja menghindari klarifikasi publik usai isi voice note-nya viral.

Sementara itu, epala Desa Galis, Akhmad Syafri Wiarda, juga belum memberikan tanggapan meski telah dihubungi berulang kali melalui pesan singkat dan panggilan telepon. Hingga berita ini diturunkan, konfirmasi dari pihak pemerintah desa belum diperoleh.***

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.