Internasional
Beranda » Blog » Donald Trump Ancam Iran dengan Pengeboman Besar jika Tolak Kesepakatan Nuklir Baru

Donald Trump Ancam Iran dengan Pengeboman Besar jika Tolak Kesepakatan Nuklir Baru

POTRET. Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan di Gedung Putih terkait ketegangan dengan Iran. (Dok. Istimewa/Rangkuman.net)

INTERNASIONAL, RANGKUMAN – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan ancaman serius terhadap Iran terkait program nuklirnya. Dalam pernyataan pada Minggu (30/3/2025), Trump menegaskan bahwa Washington siap melakukan serangan udara besar-besaran jika Teheran menolak kesepakatan baru.

“Jika mereka tidak membuat kesepakatan, akan ada pengeboman. Ini akan menjadi pengeboman yang belum pernah mereka lihat sebelumnya,” ujar Trump, beberapa waktu lalu, dikutip Rangkuman dari Kompas. Minggu (06/04/2025).

Pernyataan tersebut muncul di tengah upaya pemerintahan Trump untuk merundingkan kesepakatan baru yang bertujuan menghentikan program senjata nuklir Iran. Sebagai bagian dari strategi diplomatik, Trump mengirimkan surat kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang berisi tawaran keringanan sanksi ekonomi serta kerja sama internasional sebagai insentif untuk kembali bernegosiasi.

Namun, Iran secara resmi menolak tawaran itu pada Sabtu (29/3/2025). Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa pesan dari Washington telah diterima melalui Pemerintah Oman.

“Kami tidak menolak pembicaraan, tetapi masalah utamanya adalah janji-janji yang terus-menerus dilanggar terhadap kami,” kata Pezeshkian dalam rapat kabinet yang disiarkan televisi.

Meski begitu, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran masih membuka peluang untuk negosiasi tak langsung di masa mendatang, dengan syarat AS harus lebih dulu membangun kembali kepercayaan yang telah rusak.

Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi konsekuensi berat jika tetap melanjutkan pengembangan senjata nuklirnya. Laporan dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) pada Februari 2025 menunjukkan bahwa Iran mempercepat pengayaan uranium dalam beberapa bulan terakhir, memicu kekhawatiran global.

Ketegangan antara AS dan Iran terus meningkat dalam setahun terakhir. Washington dan sekutunya, termasuk Israel, menuduh Teheran mendukung berbagai kelompok bersenjata di Timur Tengah. Konflik di Yaman menjadi salah satu pemicunya, di mana AS melancarkan serangan udara terhadap kelompok Houthi yang diduga menyerang kapal dagang dan kapal militer AS di Laut Merah.

Selain itu, situasi semakin memanas sejak Iran meluncurkan rudal balistik ke Israel pada Oktober 2024, yang diklaim sebagai balasan atas pembunuhan seorang pemimpin Hamas di Teheran.

Di Irak, AS juga memperketat tekanannya terhadap pengaruh Iran. Pemerintah Irak sedang membahas legislasi keamanan nasional yang bertujuan mengendalikan Popular Mobilization Forces (PMF), kelompok milisi Syiah yang memiliki hubungan erat dengan Iran.

“Untuk memperkuat kedaulatan Irak, pemerintahnya harus memastikan bahwa seluruh pasukan keamanan di dalam negeri tunduk pada perintah panglima tertinggi Irak, bukan Iran,” ujar juru bicara Gedung Putih, Tammy Bruce.***

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.