Sejarah Indonesia Ditulis Ulang,11 Jilid Buku Siap Terbit 2027 dengan Anggaran Rp9 Miliar

NASIONAL, RANGKUMAN – Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan tengah menggarap proyek penulisan ulang sejarah Indonesia. Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkapkan bahwa proyek ini sedang berlangsung dan telah mencapai sekitar 50–70 persen progres pengerjaan.
“Anggarannya ada, saya lupa tepatnya, tapi tidak besar. Kalau tidak salah sekitar Rp 9 miliar,” ujar Fadli, dikutip dari Tempo, Jumat (30/05/2025).
Menurut Fadli, dana tersebut akan digunakan untuk menyusun 11 jilid buku sejarah Indonesia. Ia menekankan bahwa anggaran tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi penulisan, tetapi juga mencakup riset dan pelibatan berbagai ahli lintas disiplin. Hingga kini, tercatat ada 113 penulis yang terlibat, mulai dari akademisi, sejarawan, arkeolog, ahli geografi, hingga arsitek.
Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Prof. Dr. Susanto Zuhdi, yang juga menjadi penanggung jawab utama proyek ini, memperkirakan bahwa pengerjaan telah mencapai sekitar 70–75 persen.
Selain penulisan, anggaran juga digunakan untuk mendukung masa riset dan pengumpulan data sejarah yang lebih akurat. Ke depan, hasil dari proyek ini diharapkan dapat dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan nasional sebagai bentuk pembaruan narasi sejarah Indonesia yang lebih relevan dan inklusif.
Adapun ke-11 jilid buku yang tengah disusun mencakup tema-tema berikut:
1. Sejarah Awal NusantaraN
2. usantara dalam Jaringan Global: India dan Cina
3. Nusantara dalam Jaringan Global: Timur Tengah
4. Interaksi dengan Barat: Kompetisi dan Aliansi
5. Respons terhadap Penjajahan
6. Pergerakan Kebangsaan
7. Perang Kemerdekaan Indonesia
8. Masa Bergejolak dan Ancaman Integrasi
9. Orde Baru (1967–1998)
10. Era Reformasi (1999–2024)
11. Faktaneka dan Indeks
Fadli menekankan pentingnya proyek ini dalam memperkuat identitas bangsa.
Ia mengkhawatirkan dominasi perspektif kolonial dalam sejarah nasional yang bisa mengaburkan pemahaman generasi muda.
“Kalau narasi sejarah kita terlalu Belanda-sentris, anak-anak bisa salah memahami sejarah bangsanya sendiri. Bahkan ada yang mengira Sukarno-Hatta itu satu orang karena namanya disatukan di bandara,” ujar Fadli.
Senada dengan Fadli, Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menilai bahwa proyek ini tidak sekadar bersifat akademis, melainkan juga strategis dalam membentuk memori kolektif bangsa. DPR pun telah menyetujui pengalokasian anggaran demi tujuan tersebut.
Rencananya, seluruh pengerjaan proyek ini akan rampung pada tahun 2027 dan buku-buku sejarah hasilnya akan mulai didistribusikan ke sekolah dan perguruan tinggi sebagai materi pembelajaran utama.***

Tinggalkan Komentar