Fakta di Balik Isu Semburan Lumpur Lapindo Berhenti, Masih Aktif atau Sudah Reda?

NASIONAL, RANGKUMAN – Beredar kabar di media sosial bahwa semburan Lumpur Lapindo di Kelurahan Siring, Kecamatan Porong, Sidoarjo, telah berhenti. Namun, apakah benar demikian?
Semburan lumpur yang pertama kali muncul pada 29 Mei 2006 sekitar pukul 05.30 WIB ini berlokasi sekitar 150 meter dari permukiman warga. Lumpur tersebut berasal dari Sumur Banjarpanji 1, bagian dari pengeboran eksplorasi gas Blok Brantas yang dikelola oleh PT Lapindo Brantas di Desa Reno Kenongo, Kecamatan Porong.
Meski muncul klaim bahwa semburan telah berhenti, beberapa warga setempat menyatakan bahwa lumpur masih keluar. Sastro (42), mantan warga Desa Jatirejo, mengaku sempat penasaran setelah melihat berita yang viral di media sosial.
“Berita ini ramai diperbincangkan sejak seminggu lalu. Saya sendiri penasaran, jadi pagi harinya saya mengecek langsung ke tanggul penahan lumpur, dan ternyata semburannya masih ada,” ujar Sastro, dikutip Rangkuman.net dari Detiknews. Minggu (16/03/2025).
Menanggapi isu ini, pakar Geologi dari ITS, Prof. Dr. Ir. Amien Widodo, M.Si, menjelaskan bahwa jika semburan lumpur benar-benar berhenti, ada kemungkinan gas di bawah permukaan sudah habis.
“Mekanismenya sederhana, jika gas di bawah habis, maka tekanan yang mendorong lumpur ke atas akan melemah dan akhirnya berhenti. Namun, bisa juga gasnya masih ada tapi tekanannya melemah sehingga semburan mengecil,” jelas Prof. Amien.
Meski demikian, Prof. Amien tidak bisa memastikan apakah kondisi ini merupakan pertanda baik atau buruk. Ia mengimbau agar masyarakat tetap berpikir positif sambil terus memantau perkembangan fenomena ini.
“Mudah-mudahan ini pertanda baik. Di awal kejadian, gas di bawah tanah jumlahnya sangat besar. Jika sekarang sudah menipis, bisa jadi tekanan semburan semakin berkurang,” pungkasnya.***

Tinggalkan Komentar